Derap.id | Purwokerto – Di halaman Masjid Nurul Huda, Ahad pagi (1/3/2026), denyut Ramadan terasa berbeda. Sejak pukul 08.30 WIB, warga Perumahan Ledug Sejahtera, Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, berangsur memenuhi pelataran masjid. Bukan sekadar berburu takjil atau diskon musiman, mereka datang untuk merayakan makna berbagi dalam Bazar Ramadan 1447 H yang digelar Majelis Ta’lim (MT) Muslimah setempat.
Di bawah tenda sederhana, kupon-kupon sembako berpindah tangan. Sebanyak 185 paket dibagikan gratis kepada warga yang berhak—melonjak dari 150 paket pada tahun lalu. Di sudut lain, deretan “baju bagus pakai” tersusun rapi: kemeja bermerek, gamis yang nyaris baru, pakaian anak dengan warna cerah. Semuanya hasil infak dan sedekah warga, dikumpulkan dengan satu semangat: memperpanjang usia manfaat, memperluas lingkar kebahagiaan.

Imam tetap masjid, Ustadz Taupik Hidayat, menyebut kegiatan ini sebagai ikhtiar sederhana menjemput sabda Nabi tentang manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. “Amalan terbaik adalah yang mampu memasukkan kebahagiaan ke hati orang lain. Mudah-mudahan, dengan barang-barang murah berkualitas ini, masyarakat ikut merasakan bahagia,” ujarnya.
Bazar ini bukan kegiatan dadakan. Ketua Takmir, Ridlwan Kamaludin, menuturkan bahwa inisiatif tersebut berakar dari pengajian muslimah yang telah berjalan empat tahun terakhir. Dari forum itu, gagasan berbagi sembako, baju layak pakai, hingga pelibatan UMKM tumbuh dan terus berkembang. “Ini sudah tahun keempat. Setiap tahun ada peningkatan, baik jumlah paket maupun partisipasi warga,” katanya.


Selain sembako dan pakaian, tahun ini muncul warna baru: gerabah karya warga. Produk-produk UMKM dari RT 1 hingga RT 5 ikut meramaikan bazar—makanan olahan rumahan, kerajinan tangan, hingga pernak-pernik kebutuhan rumah tangga. Bagi Ridlwan, Ramadan tak hanya momentum spiritual, tetapi juga ruang penguatan ekonomi lokal. “Harapannya ke depan, cakupannya bisa lebih luas, mungkin level desa atau gabungan beberapa RW,” ujarnya.

Ketua Panitia, Siti Badriyah, tak menyembunyikan rasa haru. Ia menyebut persiapan telah dimulai jauh sebelum Ramadan tiba—rapat, pengumpulan donasi, hingga tim belanja yang bekerja senyap di balik layar. “Tanpa dukungan warga RW 11, ini tak mungkin terwujud. Nama Ledug Sejahtera adalah doa. Semoga benar-benar sejahtera lahir batin,” ucapnya.
Ketua RW 11, Dias, yang baru dua tahun menjabat, mengaku bangga melanjutkan tradisi yang sudah ada sebelum dirinya memimpin. “Dari 150 ke 185 paket itu luar biasa. Tahun depan semoga lebih banyak lagi,” katanya optimistis.

Di tengah riuh tawar-menawar UMKM dan antrean kupon sembako, Bazar Ramadan ini menyampaikan pesan yang lebih dalam: berbagi tak selalu soal memberi yang baru, tetapi tentang mengalirkan kembali yang masih layak. Dari lemari-lemari warga, dari celengan infak, dari dapur-dapur kecil UMKM, kebersamaan dirawat pelan-pelan.
Ramadan di Ledug Sejahtera bukan sekadar agenda tahunan. Ia telah menjadi tradisi sosial—tempat ibadah bertemu solidaritas, dan doa bersua kerja nyata. (wd)
