Derap.id | Banyumas – Aroma gula aren yang karamelnya menguar dari dapur sederhana di Jalan Jaya Serayu, Pakunden Lor, Banyumas, menjadi saksi perjalanan panjang sebuah usaha rumahan yang bertahan hampir empat dekade. Di rumah itulah, sejak 1987, Bapak Narwan memulai produksi nopia—kue khas Banyumas yang kini tak hanya bertahan, tetapi menembus pasar modern hingga sempat menembus ekspor.
Di balik dinding rumah tinggal yang sekaligus menjadi tempat produksi, sejarah itu dirawat oleh generasi kedua. Rusmanto, putra Bapak Narwan, kini melanjutkan estafet usaha keluarga.
“Kami produksi sejak tahun 1987. Berbekal pengalaman almarhum Bapak yang dulu bekerja sebagai karyawan pembuat nopia di Purbalingga dan Banyumas, lalu beliau memutuskan produksi sendiri dengan merek nama beliau, Pak Narwan,” ujar Rusmanto saat ditemui di lokasi produksi.
Dari Pekerja Menjadi Pemilik
Cikal bakal usaha ini bermula dari keputusan berani. Sebelum mendirikan usaha sendiri, Bapak Narwan bekerja membuat nopia untuk orang lain selama kurang lebih dua tahun di Purbalingga. Pengalaman itu menjadi sekolah bisnis yang tak tertulis: memahami resep, teknik pemanggangan, hingga membaca selera pasar.
Namun, keinginan untuk mandiri dan memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya keluar dari zona nyaman. Ia memulai produksi di rumah sendiri, membangun merek atas namanya—sebuah langkah yang pada era itu tidak banyak dilakukan pelaku usaha kecil.
Di masa awal, nopia dan mino—versi mini dari nopia—hanya dipasarkan di pasar tradisional dengan rasa dan kemasan yang sederhana. “Dulu masuknya hanya ke pasar tradisional, dengan bahan seadanya,” kenang Rusmanto.
Tetapi Narwan punya visi yang melampaui kebiasaan. Ia ingin nopia naik kelas.

“Super” sebagai Standar, Bukan Slogan
Di tengah maraknya nopia dengan harga murah, Narwan mengambil jalur berbeda: kualitas premium. Ia memperkenalkan label “Super Nopia” dan “Super Mino”, dengan komitmen pada bahan baku terbaik dan rasa yang konsisten.
“Bapak selalu bilang, jangan sampai nopia ini hanya dipasarkan di pasar tradisional. Kita harus bikin yang terbaik, terenak, dan bisa menjangkau pasar modern,” tutur Rusmanto.
Perbedaannya bukan sekadar nama. Bahan baku yang digunakan meliputi tepung terigu, gula aren berkualitas, gula pasir, minyak sayur, mentega, susu, vanili, serta varian rasa seperti cokelat, brambang (bawang merah), durian, dan nanas. Untuk adonan kulit digunakan tepung terigu, gula pasir, dan minyak sayur, sementara adonan isi berbasis gula aren yang diolah dan dipadukan dengan varian rasa.
Prosesnya masih mempertahankan teknik tradisional: tepung diletakkan di meja, dibuat lubang di tengah, lalu dicampur dan diuleni hingga kalis. Gula aren ditumbuk, dicampur, kemudian dibungkus adonan kulit sebelum ditempelkan pada dinding oven hingga matang.
Di pasar, strategi kualitas itu berimplikasi pada harga. Nopia Narwan dijual sekitar Rp48.000 per kilogram, sementara produk biasa di pasaran bisa berada di kisaran Rp24.000–Rp26.000 per kilogram.
“Mereka bikin biasa, kami bikin yang benar-benar super,” kata Rusmanto tegas.
Mino Lebih Laris, Cokelat Paling Dicari
Secara produk, usaha ini memproduksi dua jenis: nopia ukuran besar dan mino (mini nopia). Di pasar modern, mino lebih diminati karena praktis dan sesuai tren camilan ringan.
Varian rasa yang diproduksi antara lain gula jawa, nanas, durian, brambang, dan cokelat. Namun, dinamika pasar menunjukkan satu pemenang yang konsisten.
“Sekarang yang paling diminati rasa cokelat. Hampir setiap hari kami produksi mino atau nopia rasa cokelat,” jelas Rusmanto.
Konsistensi rasa menjadi kunci. Dalam industri makanan ringan, sekali konsumen kecewa, pasar bisa bergeser cepat. Karena itu, menurut Rusmanto, keuntungan bukan hanya soal margin, tetapi tentang menjaga reputasi.
“Untung itu tergantung pemasaran dan rasa. Rasa harus konsisten, jangan aneh-aneh, jangan berlebihan,” ujarnya.

Jaringan Distribusi dan Jejak Ekspor
Dari dapur rumahan, distribusi Nopia Narwan kini menjangkau lintas provinsi. Di wilayah selatan Jawa Tengah dan sekitarnya, produk ini beredar di Purwokerto, Purbalingga, Cilacap, dan Gombong. Ke arah timur, jaringan meluas ke Wonosobo, Temanggung, Parakan, Magelang, Yogyakarta, Solo, hingga Surabaya. Ke barat, pasar mencakup Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta, sampai Tangerang.
Sistem pemasarannya beragam: dititipkan ke toko, dikemas dalam paket, hingga pesanan langsung dari pelanggan. Pada masa awal, distribusi bahkan dibantu tetangga yang berprofesi sebagai tukang becak untuk mengantarkan pesanan.
Tak hanya pasar domestik, Nopia Narwan pernah dua kali menembus ekspor ke Tiongkok dan Malaysia. Namun, pandemi Covid-19 menghentikan jalur ekspor tersebut hingga kini belum kembali pulih.
Meski demikian, keberhasilan menembus pasar luar negeri menjadi bukti bahwa produk tradisional dengan standar mutu yang tepat memiliki daya saing global.

Menjaga Api Tradisi di Tengah Modernisasi
Kini, usaha ini mempekerjakan 15 tenaga kerja. Dari usaha keluarga yang dahulu dikelola secara sederhana, Nopia Narwan berkembang menjadi unit produksi yang lebih terstruktur tanpa meninggalkan akar tradisionalnya.
Di tengah gempuran makanan ringan modern dan produk pabrikan skala besar, Nopia Narwan memilih strategi diferensiasi: kualitas premium, rasa konsisten, dan keberanian memasuki pasar modern.
Apa yang dimulai dari dapur rumah di Pakunden Lor pada 1987, kini menjadi simbol ketahanan usaha mikro yang bertransformasi. Dari pasar tradisional ke rak-rak toko modern, dari gula aren yang ditumbuk manual hingga label “super” yang menjadi identitas.
Di balik setiap keping nopia yang renyah di luar dan legit di dalam, tersimpan cerita tentang keberanian memulai, ketekunan menjaga mutu, dan visi sederhana: menjadikan kue tradisional Banyumas tak sekadar jajanan kampung, melainkan produk kebanggaan yang mampu bersaing di mana pun pasar berada. (wd)
