Wednesday, July 15, 2026
HomeNasionalTurunan Muria Kemranjen dan Nyawa yang Terlambat Diselamatkan

Turunan Muria Kemranjen dan Nyawa yang Terlambat Diselamatkan

Derap.id | Editorial – Kabar duka kembali datang dari jalur alternatif Purwokerto–Kemranjen. Di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Selasa pagi (17/2/2026), sebuah truk towing bermuatan alat berat terguling di Turunan Muria—titik yang kembali membuktikan dirinya sebagai ruas jalan yang tak ramah bagi kendaraan berat.

Data dari Polresta Banyumas menyebutkan, dua orang meninggal dunia: SH (26) dan WN (36), keduanya warga Karawang. Tiga lainnya luka-luka. Truk bernomor polisi K 1479 KO diduga mengalami rem blong saat melintasi turunan tajam. Kendaraan menghantam tebing dan terguling. Dentuman keras memecah pagi; nyawa melayang dalam hitungan detik.

Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, dua truk juga mengalami kecelakaan di titik yang sama—kali itu tanpa korban jiwa. Fakta tersebut mestinya cukup menjadi alarm. Namun alarm itu seperti tak pernah benar-benar dibunyikan.

Pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah Turunan Muria layak dilintasi kendaraan bermuatan berat? Jika kontur jalan menurun tajam, tikungan sempit, bahu jalan terbatas, serta minim ruang penyelamatan darurat, maka jalur ini bukan sekadar alternatif—ia adalah risiko.

Kita tak bisa terus menyandarkan tragedi pada frasa “diduga rem blong.” Rem blong bukan takdir; ia sering kali merupakan kombinasi dari beban berlebih, perawatan kendaraan yang abai, manajemen armada yang longgar, serta pengawasan yang tidak konsisten. Di sisi lain, infrastruktur jalan yang tidak dilengkapi jalur penyelamat (escape ramp), rambu peringatan yang memadai, atau pembatasan tonase yang tegas, sama-sama menyumbang potensi maut.

Editorial ini bukan untuk mencari kambing hitam. Ia untuk mengingatkan bahwa keselamatan lalu lintas adalah sistem, bukan kebetulan. Pengemudi wajib disiplin dan terlatih. Perusahaan wajib memastikan kelaikan kendaraan dan standar operasional yang ketat. Pemerintah daerah dan otoritas perhubungan wajib mengevaluasi desain serta kelayakan jalur. Aparat penegak hukum wajib konsisten mengawasi.

Turunan Muria kini menyisakan dua keluarga yang berduka. Kerugian material mungkin ditaksir Rp20 juta. Namun nilai kehilangan tak pernah bisa dihitung dengan angka.

Jika titik rawan sudah berulang kali memakan korban, maka yang dibutuhkan bukan sekadar imbauan, melainkan audit menyeluruh dan langkah konkret: evaluasi teknis jalur, pembatasan kendaraan berat, pemasangan rambu tambahan, hingga opsi rekayasa lalu lintas permanen.

Jalur alternatif seharusnya menjadi solusi mobilitas, bukan lorong menuju tragedi.

Doa kita menyertai para korban. Tetapi lebih dari itu, tindakan nyata harus menyusul—agar Turunan Muria tak kembali menagih harga yang sama: nyawa manusia.

Eko Prambudiyanto, Pemimpin Umum. 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Slot Gacor Thailand