Panglima TNI Laksamana Yudo Margono Melestarikan Kesenian Tradisional Main Wayang Orang Bersama Sama Dengan Lakon ‘Pandawa Boyong’

0
234
DERAP.ID|| Jakarta,- Panglima TNI Laksamana Yudo Margono dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam berbagai kesempatan selalu menunjukkan sinergitas dan soliditas TNI-Polri. Tidak hanya soal menjaga kondusivitas Negara Republik Indonesia, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo
keduanya juga sangat kompak untuk melestarikan kesenian tradisional dengan main wayang orang bersama sama.
Panglima TNI Laksamana Yudo Margono dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga tampil dalam Pagelaran Wayang Orang Dengan Lakon ‘Pandowo Boyong’. Pagelaran ini bakal digelar di Teater daerah Ibu Kota Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Pada Hari Minggu Tanggal 15 Januari 2023 Pada Pukul 19.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB Selesai.
Panglima TNI Laksamana Yudo Margono dalam acara Pagelaran Wayang Orang Dengan Lakon¬† ‘Pandawa Boyong’ juga akan memerankan sosok Bima Sena. Sementara istrinya, Vero Yudo Margono, bakal memerankan sosok Dewi Nagageni.
Dan tak luput Juga Para Kepala Staf TNI juga ikut ambil bagian. KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman, akan memerankan sosok Batara Guru, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali SE,MM,MTr Opsla, Juga memerankan sebagai Batara Baruna, dan KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo akan memerankan Eyang Abiyasa.
Sementara itu, Jenderal Polisi Sigit Prabowo juga memerankan sebagai tokoh Prabu Puntadewa. Puntadewa kalau dalam Pewayangan digambarkan sebagai sosok manusia yang berhati suci dan membela kebenaran. Begitu juga Puntadewa juga digambarkan sebagai sosok seorang manusia yang sangat sabar, beriman, tekun beribadah, ikhlas dan jujur, juga Budi Pekerti.
Dengan adanya Pagelaran Wayang Orang Dengan Lakon ‘Pandawa Boyong’ ini di sutradarai oleh Panglima TNI Laksamana Yudo Margono berkolaborasi dengan lintas generasi, juga Para Tokoh dan berbagai unsur seperti Laskar Indonesia Pusaka, Paguyuban Wayang Orang Barata, dan juga lain sebagainya.
Panglima TNI Laksamana Yudo Margono di kalangan Para Seniman memang dikenal juga sebagai sosok Laksamana Budayawan.
Selama ini Panglima TNI Laksamana Yudo Margono sangat konsen dalam melestarikan Seni Budaya Warisan Leluhur Nenek Moyang.
Panglima TNI Laksamana Yudo Margono
dalam pernyataannya beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa usaha untuk menjaga Kelestarian Budaya, termasuk Wayang Orang, Supaya menjadi semakin sangat Penting untuk dilaksanakan di tengah serbuan pengaruh budaya asing, ini sebagai dampak dari Globalisasi hasil kemajuan Teknologi Informasi dan Digital. Panglima TNI Laksamana Yudo Margono bertekad untuk ambil bagian dalam usaha supaya untuk melestarikan berbagai kekayaan budaya bangsa Negara Republik Indonesia untuk melalui tindakan-tindakan yang nyata.
“Bangsa Negara Republik Indonesia ini seharusnya lebih memilih Wayang sebagai Tontonan juga sekaligus Tuntunan Dalam Kehidupan. Tetapi, pada dasarnya memang kenyataannya saat ini rakyat kita, khususnya untuk Generasi Muda Sekarang ini, lebih mengidolakan Tokoh Tokoh Superhero dari Produk Negara lain. Dibandingkan dengan Tokoh Tokoh Pewayangan dari budaya kita sendiri. Ini menjadi tantangan bagi kita semua khususnya untuk mengembalikan kecintaan masyarakat terhadap Budaya Kita sendiri,” kata Panglima TNI Laksamana Yudo Margono beberapa waktu lalu.
Dengan Lakon ‘Pandawa Boyong’¬† ini mengisahkan untuk ketika lima orang kesatria juga Bersaudara Boyongan atau Pindah dari Alengka yang dikuasai Kurawa ke Astinapura. Kepindahan itu untuk memerdekakan diri dari kekuasaan Kurawa. Mereka harus Berperang untuk Melawan Kurawa yang jumlahnya jauh lebih besar dengan punya persenjataan yang lebih banyak. Namun berkat kesungguhan yang didasarkan Niat Baik, Pandawa dapat memenangkan perang.
Boyongnya Pandawa ke Astina menjadi pesan moral kepada masyarakat agar lebih untuk memahami, juga menghayati dan mengamalkan Pancasila. Bahkan sosok dalam Pandawa Lima pun relevan dengan semangat dan juga nilai-nilai Pancasila. Puntadewa adalah simbol ketuhanan Yang Maha Esa yang menjadi Sila Pertama dalam Pancasila.
Bimasena yang adil dan penuh rasa kemanusiaan, yaitu mewakili Sila ke Dua Pancasila. Arjuna untuk mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan yang dinyatakan dalam sila ke Tiga Pancasila. Nakula menyimbolkan sila ke Empat, yaitu permusyawaratan masyarakat. Sedangkan kembarannya, Sadewa simbol dari sila ke Lima, keadilan sosial yang benar-benar adil.(@budi_rht DERAP.ID)