Derap.id | Purwokerto – Jarum jam menunjuk pukul 22.00 WIB ketika halaman rumah Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor mulai dipadati langkah-langkah tenang para pengurus dan asatidz. Jumat malam, 20 Februari 2026, bukan sekadar agenda rutin selapanan. Ia menjelma ruang muhasabah, panggung pertanggungjawaban, sekaligus cermin tentang bagaimana amanah dirawat dengan kesungguhan.
Bertempat di kediaman Ketua Pengurus madrasah, KH. M. Ali Sodikin, di Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Banyumas, forum digelar dalam suasana khidmat. Tidak ada gemerlap panggung, tak pula hingar-bingar seremoni. Yang terdengar justru lantunan Ummul Kitab, tahlil singkat, dan doa-doa yang mengalir khusyuk, dipandu para sesepuh. Di situlah makna selapanan menemukan rohnya: bukan sekadar rapat administratif, melainkan ikhtiar kolektif menjaga marwah pendidikan diniyah.
Acara dipandu Fajar Setio Aji dengan tertib dan sederhana. Namun sorotan utama malam itu tertuju pada laporan Panitia Imtihan 2026—sebuah laporan yang dinanti, sekaligus menjadi barometer integritas.
Ketua Panitia, Ust. Fajar Santoso, untuk keempat kalinya dipercaya mengemban amanah yang sama. Empat tahun berturut-turut, ia berdiri di forum yang sama, menyampaikan laporan dengan pola yang sama: terbuka, rinci, dan lugas. Dan untuk keempat kalinya pula, laporan itu ditutup dengan satu kalimat yang menghadirkan senyum lega di wajah hadirin—surplus.
“Alhamdulillah, seluruh saldo surplus langsung kami serahkan kepada Ketua Pengurus Madrasah sebagai wujud amanah panitia kepada lembaga,” tegasnya.
Imtihan 2026 kembali mencatat surplus lebih dari Rp30 juta. Angka itu bukan kebetulan. Selama empat tahun terakhir, pagelaran tahunan yang menyedot anggaran rata-rata sekitar Rp100 juta tersebut konsisten menyisakan surplus di kisaran Rp25–30 juta.
Di tengah realitas banyaknya kegiatan seremonial pendidikan yang kerap berujung defisit atau polemik, capaian ini menjadi anomali yang menyejukkan. Ia menunjukkan bahwa efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas, dan kemeriahan tidak identik dengan pemborosan. Di balik angka-angka itu, ada manajemen yang rapi, kontrol anggaran yang disiplin, dan—yang paling utama—kepercayaan masyarakat yang terjaga.
Bagi KH. M. Ali Sodikin, surplus bukan tujuan akhir. Ia hanyalah konsekuensi dari amanah yang dijaga bersama.
“Setiap laporan adalah tanggung jawab moral dan syar’i. Ketika ukhuwah dirawat, transparansi ditegakkan, dan amanah dijunjung tinggi, keterbatasan justru melahirkan keberkahan,” dawuhnya.

Kalimat itu menggema lebih dalam daripada sekadar laporan keuangan. Ia menegaskan bahwa tata kelola lembaga pendidikan keagamaan bukan hanya soal angka, melainkan juga soal etika. Soal bagaimana setiap rupiah diperlakukan sebagai titipan umat, bukan sekadar nominal dalam neraca.
Apresiasi senada datang dari Kepala Madrasah, Ust. Jamil. Ia menyebut capaian tersebut sebagai prestasi kolektif keluarga besar madrasah—hasil gotong royong pengurus, panitia, asatidz, wali santri, hingga masyarakat sekitar.
Dalam konteks yang lebih luas, selapanan malam itu merepresentasikan satu hal penting: pendidikan berbasis komunitas masih memiliki daya tahan yang kuat ketika nilai kebersamaan dijadikan fondasi. Transparansi bukan sekadar jargon, melainkan dipraktikkan. Amanah bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan.
Acara ditutup dengan doa, arisan, dan ramah tamah. Tawa kecil pecah di sela obrolan, menandai cairnya suasana setelah forum resmi usai. Namun pesan yang dibawa pulang setiap peserta jauh lebih besar dari sekadar angka surplus.
Dari Pasir Lor, tersiar pelajaran sunyi namun bermakna: ketika perjuangan dirajut dalam kebersamaan dan keikhlasan, maka pagelaran sebesar apa pun tak hanya sukses terselenggara. Ia meninggalkan jejak yang lebih abadi—saldo kepercayaan, surplus keberkahan, dan harapan yang terus menyala bagi masa depan Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor. (wd)
