Derap.id | Banyumas – Ramadan selalu datang membawa dua hal: keheningan yang syahdu dan denyut kehidupan yang justru kian terasa. Di Masjid Nurul Huda, Perum Ledug Sejahtera, Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, bulan suci tahun ini disambut bukan sekadar dengan spanduk dan jadwal kegiatan, melainkan dengan kesungguhan untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban kecil di tengah perumahan.
Ketua Takmir Masjid Nurul Huda, Ridlwan Kamaluddin, menyebut rangkaian agenda Ramadan 1447 H sebagai ikhtiar kolektif.
“InsyaAllah, inilah rangkaian kegiatan Ramadan Masjid Nurul Huda tahun ini. Mari kita hidupkan masjid dengan ibadah, kebersamaan, dan kontribusi terbaik kita,” ujarnya.
Kalimat itu bukan slogan. Ia adalah ajakan yang diterjemahkan dalam program yang terstruktur, menyentuh seluruh lapisan jamaah—anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak—bahkan hingga ranah sosial dan ekonomi.
Dimulai dari Kesadaran, Disiapkan dengan Gotong Royong
Rangkaian Ramadan diawali dengan Kajian Tarhib pada Kamis, 12 Februari 2026, pukul 18.30 WIB. Tarhib bukan hanya ceramah pembuka. Ia menjadi ruang refleksi: bagaimana memasuki Ramadan dengan hati yang bersih dan niat yang lurus.
Tiga hari kemudian, Ahad, 15 Februari 2026, jamaah turun bersama membersihkan masjid. Bersih-bersih masjid bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan simbol kesiapan menyambut bulan suci. Ramadan di Ledug Sejahtera dimulai dari kesadaran bahwa ibadah memerlukan ruang yang layak—lahir dan batin.

Ibadah Harian yang Menjadi Ritme Kehidupan
Selama Ramadan, Masjid Nurul Huda hidup hampir tanpa jeda.
Sejak pukul 04.30 WIB, kajian Subuh digelar setiap hari. Jamaah yang datang bukan hanya orang tua; sejumlah pemuda mulai terlihat konsisten mengikuti pengajian pagi.
Sholat lima waktu berjamaah menjadi tulang punggung aktivitas. Sore hari, pukul 16.30 WIB, masjid kembali ramai dengan dua denyut berbeda:
– Pengajian Tahsin dan Bahasa Arab untuk ibu-ibu (MT Nurul Huda).
– Kajian Islam anak-anak yang digelar Senin hingga Sabtu.

Anak-anak belajar akhlak, fiqih dasar, dan membaca Al-Qur’an. Di waktu yang sama, para ibu memperbaiki makhraj dan tajwid. Ramadan menjadi ruang pembelajaran lintas generasi.
Menjelang magrib, pukul 18.00 WIB, buka puasa bersama digelar setiap hari. Nampan-nampan sederhana berjejer. Tidak mewah, tetapi sarat makna kebersamaan.
Malam harinya, pukul 19.15 WIB, sholat Tarawih berjamaah dilanjutkan kultum. Selepas itu, pukul 20.30 WIB, tadarus Al-Qur’an digelar untuk bapak-bapak dan ibu-ibu. Ramadan di Nurul Huda bukan hanya tentang ramai di awal dan lengang di akhir—ia dirancang konsisten sepanjang bulan.
Bidang Keputrian dan Kemuslimahan: Menguatkan Literasi Qur’ani
Secara khusus, Bidang Keputrian dan Kemuslimahan Masjid Nurul Huda menyusun jadwal tahsin yang detail.
Pagi hari (Selasa dan Rabu, pukul 10.00–11.00 WIB) diisi dengan tadrib dan materi.
Sore hari (pukul 16.00–17.30 WIB) diisi materi tajwid (Senin, Selasa, Jumat), tadabbur (Rabu), doa-doa harian (Kamis), serta hafalan Al-Qur’an bagi pemula dan lanjutan (Ahad).
Setiap malam ba’da Tarawih, tadarus bersama menjadi penutup aktivitas.

Program tambahan juga disiapkan, seperti tasmi’ Qur’an dua juz untuk bapak-bapak setiap ba’da Tarawih. Ini bukan target simbolik, melainkan latihan konsistensi membaca dan menjaga hafalan.
Spirit Sosial: Bazar dan Baksos Ramadan
Ramadan bukan hanya tentang ritual. Pada Ahad, 1 Maret 2026, digelar Bazar dan Bakti Sosial Ramadan pukul 08.30–11.30 WIB.
Bazar MT Nurul Huda bukan semata transaksi ekonomi, tetapi ruang pemberdayaan jamaah. Produk rumahan, kuliner, dan kebutuhan Ramadan menjadi bagian dari perputaran ekonomi kecil di lingkungan perumahan.
Di sisi lain, pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah serta zakat mal di akhir Ramadan mempertegas fungsi masjid sebagai simpul solidaritas sosial.
Sepuluh Hari Terakhir: Mencari Puncak Spiritualitas
Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, Masjid Nurul Huda menggelar sholat malam, i’tikaf, dan sahur bersama. Ini fase yang sering menjadi ujian konsistensi.
Di sinilah kualitas jamaah diuji: tetap bertahan saat euforia awal Ramadan mereda.
Kajian Nuzulul Qur’an juga disiapkan secara insidental, menyesuaikan momentum terbaik.
Lebih dari Sekadar Ramadan
Rangkaian ditutup dengan sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H dan Halal Bi Halal pada Ahad, 5 April 2026, pukul 07.00–11.30 WIB.
Namun visi masjid tidak berhenti di sana. Program Umroh spesial Muharram bagi jamaah Masjid Nurul Huda direncanakan berangkat awal Juli 2026. Ini menunjukkan bahwa pembinaan spiritual tidak dibatasi oleh kalender Ramadan semata.

Masjid sebagai Pusat Peradaban Kecil
Ramadan 1447 H di Masjid Nurul Huda Ledug Sejahtera menunjukkan satu hal: masjid bisa menjadi jantung kehidupan komunitas jika dikelola dengan visi dan partisipasi.
Di tengah perumahan yang mungkin tampak biasa, ada denyut luar biasa. Ada anak-anak yang belajar tajwid, ibu-ibu yang memperbaiki bacaan, bapak-bapak yang menuntaskan dua juz tasmi’, dan jamaah yang saling berbagi hidangan berbuka.

Ramadan di sini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia tentang membangun kebersamaan, menguatkan literasi Qur’ani, menghidupkan solidaritas sosial, dan menjadikan masjid bukan sekadar tempat singgah, tetapi pusat pertumbuhan iman.
Dan seperti ajakan Ketua Takmir, Ramadan hanya akan bermakna jika setiap jamaah menghadirkan kontribusi terbaiknya. Masjid telah menyiapkan panggungnya. Kini, giliran umat menghidupkannya. (wd)
