Wednesday, July 15, 2026
HomeNasionalPolitikTanpa Kampanye, Tanpa Uang: Demokrasi Bersih Masih Ada di Tingkat RT

Tanpa Kampanye, Tanpa Uang: Demokrasi Bersih Masih Ada di Tingkat RT

Derap.id | Purwokerto – Di sebuah gang sederhana di Perumahan Griya Satria, Kelurahan Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, demokrasi menemukan wajahnya yang paling jernih.

Minggu pagi (15/2/2026), sejak pukul 09.00 WIB, Gang 3 RT 003 RW 010 sudah hidup oleh sapa, tawa, dan langkah warga yang datang silih berganti. Bukan untuk pesta politik besar, bukan pula untuk kampanye dengan pengeras suara. Mereka datang untuk satu hal sederhana namun mendasar: memilih ketua RT.

Dari 107 pemilih terdaftar, sebanyak 97 warga dewasa ber-KTP menggunakan hak pilihnya. Angka partisipasi yang tinggi untuk ukuran pemilihan tingkat rukun tetangga. Tidak ada baliho, tidak ada selebaran, tidak ada serangan fajar. Bahkan, para calon tidak melakukan kampanye terbuka.

Semua berjalan dalam kesadaran kolektif.

Empat nama berkompetisi secara sehat: Aleksander Nainggolan (13 suara), Edi Santoso (41 suara), Fakturohman (23 suara), dan Rizal (20 suara). Selisih suara terbentuk secara alamiah, tanpa riak, tanpa prasangka. Ketika tiga kotak suara dibuka dan dihitung bersama di hadapan warga, suasana tetap hangat. Sesekali terdengar tepuk tangan ringan, lebih sebagai penghargaan atas proses daripada euforia kemenangan.

“Semua dilakukan terbuka dan disaksikan bersama agar hasilnya benar-benar diterima seluruh warga tanpa prasangka,” ujar salah satu panitia.

Teknis pemilihan dipimpin Supeno, Ujang, Hanto, dan Heru. Namun, sejatinya seluruh warga adalah pengawas sekaligus penjaga legitimasi proses tersebut. Para bapak berdiri mengelilingi meja penghitungan, ibu-ibu mengamati dengan seksama, remaja dan anak-anak belajar diam-diam tentang arti partisipasi.

Rangkaian hari itu dimulai dengan senam sehat bersama instruktur senior Sulis. Gerak tubuh menjadi pembuka ruang dialog sosial. Setelahnya, makan pagi bersama menguatkan suasana kekeluargaan. Pemilihan bukan sekadar prosedur administratif, melainkan momentum sosial.

Distribusi kartu suara bahkan telah dilakukan sehari sebelumnya secara door to door oleh tim PKK dan dawis dari tiga kelompok. Sebuah kerja sunyi yang memastikan tidak ada warga terlewat.

Ketua RT masa bakti 2023–2026, Irfing Permana, menegaskan seluruh tahapan dijalankan dengan prinsip kebersamaan dan keterbukaan.

“Alhamdulillah, proses ini berjalan demokratis dan jurdil. Tidak ada kampanye, tidak ada uang, semua murni kesadaran lahir dan batin warga sebagai satu keluarga RT 03 RW 10,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan selama mengemban amanah. Sebuah penutup yang elegan bagi masa jabatan yang berakhir.

Tokoh masyarakat setempat, Ndan Ujang, menyebut pemilihan tersebut sebagai potret demokrasi matang di tingkat akar rumput.

“Ini bukti bahwa warga kita sudah dewasa dalam berdemokrasi. Tidak perlu kampanye berlebihan, tidak perlu transaksional. Semua berjalan atas dasar kepercayaan, kesadaran, dan persaudaraan,” katanya.

Hasilnya, Edi Santoso resmi ditetapkan sebagai Ketua RT 003 RW 010 masa bakti 2026–2029 dengan perolehan suara terbanyak, 41 suara. Penetapan dilakukan langsung setelah penghitungan selesai, disaksikan warga tanpa jeda spekulasi.

Dengan nada rendah hati, Edi menyampaikan komitmennya.

“Terima kasih atas kepercayaan bapak dan ibu. Semoga saya dapat menjalankan amanah ini dengan baik dan meneruskan yang sudah berjalan. Mohon dukungan, bantuan, bimbingan, serta kerja samanya,” ucapnya.

Serah terima jabatan direncanakan berlangsung dalam rangkaian silaturahmi halal bihalal warga pada akhir Syawal 1447 H atau April 2026. Momentum religius dan sosial akan menyatu, mempertegas bahwa kepemimpinan di tingkat RT bukan sekadar jabatan, melainkan amanah moral.

Di tengah seringnya demokrasi dipersepsikan mahal, gaduh, dan transaksional, Gang 3 Griya Satria Bantarsoka menunjukkan versi lain: sunyi, bersih, partisipatif. Tanpa kampanye, tanpa politik uang, tanpa tekanan.

Dari ruang kecil bernama rukun tetangga, nilai-nilai besar itu justru tumbuh.

Di sana, demokrasi tidak berteriak. Ia bekerja dalam senyap, dijaga oleh rasa saling percaya, dan dirawat oleh kebersamaan. Sebuah pelajaran bahwa kualitas demokrasi bangsa, pada akhirnya, selalu bermula dari gang-gang kecil yang memilih untuk jujur. (wd)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Slot Gacor Thailand