Derap.id | Purbalingga – Bencana kerap datang tanpa mengetuk pintu. Namun dalam kebudayaan kita, ia sering dibaca bukan sekadar peristiwa alam, melainkan penanda: ada yang perlu diingat, ada janji yang mesti ditunaikan. Unggahan akun Facebook Raden Purbawisesa menyuarakan tafsir itu—bahwa alam sedang “menagih janji”, mengingatkan manusia pada harapan yang pernah diucapkan, kekaguman yang pernah dipupuk, dan kepercayaan yang kini diuji.
Di banyak tempat, sosok pemimpin kerap digadang-gadang sebagai harapan baru, simbol pembaruan dari peradaban tua. Harapan itu rapuh bila tak dirawat dengan tepo sliro dan tenggang rasa. Ketika jarak kuasa menjadi sekat, dan suara rakyat kecil tak lagi tanggap sasmita, kekaguman dapat berubah menjadi kekecewaan. Alam, dalam narasi ini, hadir sebagai pengingat keras: janji setia tak boleh sekadar retorika.
Fakta di lapangan berbicara lugas. BPBD Kabupaten Purbalingga menangani banjir bandang yang menerjang Desa Serang dan Kutabawa di lereng Gunung Slamet setelah hujan deras. Akses jalan terputus, ratusan warga terdampak, puluhan keluarga mengungsi, dan jembatan Sungai Bambangan putus total. Hujan lebat, angin kencang, listrik padam—semua menambah beban warga yang sudah rentan.
Di Banyumas, luapan sungai bercampur lumpur mengalir di Kali Pangkon, Telaga Sunyi, hingga Kalipelus. Air setinggi 70–90 sentimeter menyapu alur sungai, memaksa warga menahan aktivitas dan aparat bekerja cepat memantau risiko. Tidak ada korban jiwa, tetapi pesan kewaspadaan itu nyata: lereng Slamet sedang rapuh.
Membaca bencana sebagai “teguran” bukan untuk memvonis, melainkan mengoreksi arah. Kepemimpinan—di level apa pun—ditagih untuk hadir, mendengar, dan merawat harapan. Bukan dengan simbol, melainkan empati dan kerja nyata: mitigasi yang serius, tata kelola lingkungan yang berkelanjutan, dan komunikasi yang merangkul.
Alam mungkin tak berbicara dengan bahasa manusia. Namun ketika air meluap dan lumpur turun, ia menulis catatan tebal di hadapan kita. Janji—kepada rakyat dan kepada alam—tak boleh diabaikan. Sebab ketika diingkari, yang datang bukan sekadar hujan, melainkan peringatan. (wd)
