Thursday, July 16, 2026
HomeBudayaRaffi Ahmad Serap Aspirasi Pelaku Kreatif Banyumas–Cilacap, Negara Harus Hadir untuk Pekerja...

Raffi Ahmad Serap Aspirasi Pelaku Kreatif Banyumas–Cilacap, Negara Harus Hadir untuk Pekerja Seni

Derap.id | Banyumas – Di sebuah ruang dialog yang hangat, persisnya di Rianto Dance Studio, Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, negara mencoba lebih dekat mendengar denyut nadi kreativitas daerah. Melalui forum bertajuk “UKP Mendengar”, Utusan Khusus Presiden Bidang Pekerja Seni dan Kepemudaan yang juga Wakil Ketua Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN), Raffi Ahmad, menyerap langsung aspirasi pelaku ekosistem kreatif Banyumas–Cilacap, Jumat (17/1/2026).

Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan kerja seremonial. Digagas bersama ICCN dan Komite Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah, forum tersebut dirancang sebagai jembatan dialog antara kebijakan pusat dan realitas yang dihadapi para pekerja seni serta pelaku ekonomi kreatif di tingkat akar rumput.

Raffi hadir dengan dua peran sekaligus: representasi negara dan penggerak jejaring kota kreatif. Ia didampingi Dimas Herdy Utomo dari Komite Ekonomi Kreatif Jateng sekaligus Exco ICCN, Aldi N.K. Abidin selaku Deputi 1 ICCN, serta Romi Angger Hidayat, Founder Cilacap Kreatif dan Wakil Direktur Strategi Jenama ICCN.

Dalam dialog terbuka itu, Raffi menegaskan bahwa “UKP Mendengar” adalah ruang mendengar yang sesungguhnya. Negara, menurutnya, harus hadir memastikan ruang produksi tetap hidup, jalur pengembangan talenta terbuka, akses pasar adil, dan apresiasi bagi pekerja seni berlangsung berkelanjutan.

Ratusan pelaku kreatif hadir, mewakili 17 subsektor ekonomi kreatif. Ketua Sanggar Kamulyan Sinduredja Jatilawang, Suho, menyebut forum ini diikuti pegiat komunitas, sanggar seni, hingga tenant Peken Banyumasan—pasar artisan berbasis komunitas yang tumbuh organik di Banyumas dan sekitarnya.

Banyumas memberi contoh bagaimana dialog berbasis komunitas mampu mempertemukan gagasan nasional dengan kebutuhan lokal. (istimewa)

Bagi Suho, Banyumas memberi contoh bagaimana dialog berbasis komunitas mampu mempertemukan gagasan nasional dengan kebutuhan lokal. Ia berharap forum ini menjadi titik awal penguatan jejaring, kolaborasi lintas wilayah, dan langkah konkret menuju ekosistem ekonomi kreatif yang lebih adil dan inklusif.

Melalui “UKP Mendengar”, suara-suara dari desa dan komunitas menemukan ruangnya. Dari Banyumas, pesan itu mengalir: kreativitas daerah bukan untuk didengar sesekali, melainkan dirawat secara berkelanjutan. (wd)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Slot Gacor Thailand