Wednesday, July 15, 2026
HomeNasionalPengamanan Operasi Lilin Candi 2025: Misa Mingguan di Gereja Katedral Banyumas Kondusif,...

Pengamanan Operasi Lilin Candi 2025: Misa Mingguan di Gereja Katedral Banyumas Kondusif, Harmoni Sosial Jadi Penyangga

Derap.id | Banyumas — Minggu pagi, 28 Desember 2025, lonceng Gereja Katedral Banyumas kembali berdentang, bukan sekadar penanda ibadah, tetapi juga simbol ketahanan sosial sebuah kota. Di tengah gelaran Operasi Lilin Candi 2025, Misa Mingguan pagi umat Katolik berlangsung aman, tertib, dan kondusif di bawah pengamanan berlapis personel Polresta Banyumas.

Ibadah yang dipimpin Romo Niko Setia Wijaya, OMI, diikuti sekitar 350 jemaat, dimulai pukul 05.00 WIB dan rampung pada 07.20 WIB. Durasi misa yang berjalan hingga 07.20 WIB itu tak hanya khidmat, tetapi juga menjadi potret koordinasi matang antara aparat, pengurus gereja, dan warga.

Pengamanan dipusatkan dari Pos Pengamanan (Pos Pam) Gereja Katedral, dipimpin Kapos Pam Iptu Yudi Krisno. Skema pengamanan dilakukan secara terbuka dan tertutup, memastikan keamanan area internal dan perimeter luar gereja. Pendekatan ini menegaskan paradigma Polri masa kini: kehadiran yang kuat tanpa mengusik ruang kontemplasi umat.

Kapolresta Banyumas Kombes Pol Dr. Ari Wibowo, S.I.K., M.H., melalui Kasi Humas AKP Siti Nurhayati, menegaskan bahwa pengamanan tersebut merupakan wujud komitmen pelayanan publik, terutama pada momentum Nataru.

“Personel melakukan pengamanan secara terbuka dan tertutup untuk memastikan jemaat dapat beribadah dengan tenang,” ujar AKP Siti Nurhayati.

Namun lebih dari sekadar pengamanan prosedural, Operasi Lilin Candi 2025 di Banyumas memancarkan pesan yang lebih dalam: keamanan bukan hanya soal penjagaan fisik, melainkan orkestrasi kepercayaan publik.

Momentum Natal dan Tahun Baru kerap dianggap rawan karena mobilitas massa, euforia perayaan, dan potensi gangguan keamanan. Di Banyumas, risiko itu direspons bukan dengan sekat sosial, melainkan jembatan sinergi. Aparat menempatkan pengamanan sebagai langkah preventif, sementara gereja dan warga memastikan tata kelola internal ibadah tetap tertib. Di titik ini, harmoni sosial berfungsi sebagai buffer zone pertama sebelum instrumen keamanan formal bekerja.

Sinergi itu, sebagaimana disampaikan Kasi Humas, menjadi kunci utama terciptanya situasi kondusif. Sebuah pengakuan yang menandai pergeseran penting: komunitas sipil bukan objek pengamanan, melainkan subjek kolaborasi keamanan.

Misa Mingguan pagi di Gereja Katedral Banyumas pun selesai tanpa insiden. Jemaat pulang dengan rasa tenteram, sementara aparat menutup kegiatan dengan catatan evaluatif, siap menyambut ibadah berikutnya dan agenda puncak Nataru.

Di kota yang dikenal religius sekaligus cair secara kultural ini, pagi itu Banyumas memberi pelajaran sederhana tetapi esensial: kedamaian lahir ketika ruang ibadah dihormati, dan ruang publik dijaga bersama. Sebuah asa yang lebih berharga dari sekadar seragam baru atau slogan musiman. (wd)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Slot Gacor Thailand