Derap.id | Banyumas – Gelombang optimisme pecah di Sasana Krida GOR Satria Purwokerto, Jumat malam (26/12/2025). Di bawah sorot lampu arena dan dentum tepuk tangan, Persibas Banyumas menandai babak baru: launching tim dan jersey anyar untuk mengarungi Liga 4, dengan target yang tak main-main—promosi ke Liga 3.
Ketua Umum Persibas, Trisno Sudarso, berdiri di podium dengan keyakinan yang menguar kuat. Baginya, kompetisi bukan sekadar partisipasi, melainkan ajang pembuktian bahwa sepak bola Banyumas siap bangkit dan kembali diperhitungkan.
“Melihat skuad yang ada sekarang, kami optimistis Persibas Banyumas bisa menembus Liga 3. Ini bukan mimpi, tapi target yang harus kita kejar bersama,” tegas Trisno, disambut gemuruh tepuk tangan Laskar Bawor yang memadati tribun.
Nada optimisme itu bukan tanpa dasar. Trisno menyebut komposisi skuad saat ini memiliki kedalaman, keseimbangan, dan daya saing yang menurutnya “sangat realistis” untuk mengejar target promosi. Ia juga melayangkan apresiasi kepada ekosistem pendukung yang selama ini menjadi penopang perjalanan Persibas: Pemkab, legislatif, sponsor, hingga komunitas suporter yang setia mengawal.
Namun, panggung malam itu tak hanya berisi euforia. Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, memberi pesan yang keras, lugas, dan menyentil langsung ke inti persoalan klasik sepak bola level daerah: kesejahteraan pemain.
Dengan bahasa Banyumasan yang membumi, Bupati menyampaikan ultimatum yang memantik perhatian seisi ruangan.
“Tulung pemain nek wis ana perjanjian kontrak dibayar pira tapi ora sesuai perjanjian, dilaporna ming ketua dewan ya. Ben manajere diganti,” ujarnya dengan nada serius.
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Bupati menegaskan bahwa sepak bola yang ingin naik kelas harus dimulai dari tata kelola yang jujur dan profesional. Ia bahkan membuka peta dukungan dari luar daerah, mengaku telah menjalin komunikasi dengan sejumlah pengusaha di Jakarta untuk masuk sebagai sponsor Persibas.
Selain itu, Sadewo menyinggung realitas kewenangan fiskal. Ia secara terbuka meminta DPRD Banyumas ikut memikirkan dukungan anggaran bagi Persibas, mengingat otoritas penganggaran ada di legislatif.
“Untuk Pak Ketua Dewan, tolong dipikirkan juga anggaran untuk Persibas. Karena yang punya kewenangan dewan,” katanya.
Tak berhenti di sana, Bupati melontarkan janji konkret: penambahan anggaran jika Agus Nova resmi menjabat Ketua DPRD, serta hibah satu unit mobil operasional untuk mendukung mobilitas tim dan manajemen.
Di sisi lain, suporter mendapat panggilan moral yang sama kuatnya. Bupati meminta seluruh elemen suporter bersatu, menjaga kondusivitas, dan meninggalkan friksi internal yang selama ini kerap membayangi.
“Untuk suporter, jangan pada berantem. Kedepan saya minta suporter kompak. Kalau suporter kompak, saya yakin Persibas akan semakin moncer,” tegasnya.
Malam itu juga mencatat momen penting di luar aspek teknis sepak bola. Perwakilan empat kelompok suporter Persibas melakukan deklarasi damai, sebuah simbol komitmen kolektif untuk menanggalkan rivalitas horizontal, demi kejayaan Laskar Bawor.
Acara dihadiri Bupati, Plt Ketua DPRD, ketua fraksi, anggota dewan, sponsor, manajemen klub, dan ratusan suporter fanatik. Setelah prosesi seremonial usai, panggung beralih ke hiburan—DJ lokal menutup malam dengan musik yang menyemarakkan atmosfer penuh harapan.
Launching ini bukan sekadar perkenalan jersey dan skuad. Ia adalah pernyataan identitas dan tekad: bahwa sepak bola Banyumas sedang menata ulang langkah, membangun fondasi, dan menatap promosi bukan sebagai kebetulan, tetapi sebagai target yang dikejar bersama.
Persibas kini mengibarkan bendera baru—bendera perlawanan untuk naik kelas. Liga 4 menjadi garis start, Liga 3 adalah target, dan persatuan adalah modal awal. Dari Purwokerto, asa itu menggema. Keras. Meyakinkan. Dan menular. (wd)
