Wednesday, July 15, 2026
HomeRamadan di Balik Jeruji: Tadarus Menjadi Ruang Pulang bagi Warga Binaan Rutan...

Ramadan di Balik Jeruji: Tadarus Menjadi Ruang Pulang bagi Warga Binaan Rutan Banyumas

Derap.id | Banyumas – Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi yang terkunci, lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan setiap hari. Ramadan 1447 Hijriah menghadirkan suasana berbeda di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Banyumas. Bukan hanya agenda ibadah, tadarus Al-Qur’an menjadi ruang hening untuk menata ulang hati dan harapan.

Sebanyak 13 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mengikuti kegiatan tadarus yang digelar rutin di aula blok hunian. Duduk melingkar dengan mushaf di tangan, mereka membaca ayat demi ayat secara bergantian. Tidak ada hiruk-pikuk. Yang terdengar hanya suara bacaan yang kadang bergetar, kadang mantap, namun selalu penuh kesungguhan.

Sejak awal Ramadan, nuansa religius terasa semakin kental di lingkungan rutan. Bagi para warga binaan, tadarus bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan ruang refleksi. Di sela-sela bacaan, ada jeda panjang untuk merenung—tentang kesalahan, tentang keluarga, dan tentang masa depan yang ingin diperbaiki.

Pelaksanaan tadarus dilakukan terjadwal setiap hari dengan pendampingan petugas. Pendekatan ini tidak hanya memastikan ketertiban, tetapi juga menjaga suasana khusyuk dan penuh makna. Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum pembinaan spiritual—membangun kembali fondasi keimanan yang mungkin pernah rapuh.

Salah satu peserta, WBP berinisial S (53), mengaku merasakan perubahan signifikan dalam dirinya. Ia menyebut Ramadan kali ini sebagai titik balik.

“Saya merasa lebih tenang dan lebih dekat dengan Allah SWT. Hati saya lebih adem. Di sini saya punya waktu untuk benar-benar merenung. Harapan saya, setelah bebas nanti, saya bisa terus istiqamah membaca Al-Qur’an dan menjadi pribadi yang lebih baik untuk keluarga,” tuturnya dengan suara lirih namun mantap.

Bagi S, tadarus adalah pengingat bahwa setiap manusia punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Ia memaknai Ramadan sebagai latihan kesabaran dan tanggung jawab—nilai yang ingin ia bawa saat kembali ke tengah masyarakat.

Kepala Rutan Kelas IIB Banyumas, Anggi Febiakto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari proses pembinaan menyeluruh.

“Kami berharap melalui kegiatan tadarus ini, warga binaan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaannya, sehingga tumbuh kesadaran untuk memperbaiki diri. Pembinaan spiritual adalah fondasi penting dalam proses pemasyarakatan,” ujarnya.

Menurut Anggi, pembinaan di rutan tidak hanya menyangkut kedisiplinan dan keamanan. Transformasi sejati, katanya, harus berangkat dari kesadaran internal. Pendekatan keagamaan yang konsisten dan berkelanjutan menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun karakter serta memperkuat mental spiritual warga binaan.

Komitmen tersebut tidak berhenti pada Ramadan. Pihak rutan berupaya menghadirkan program pembinaan keagamaan secara berkesinambungan, agar nilai-nilai moral yang ditanamkan tidak bersifat musiman.

Tadarus Menjadi Ruang Pulang bagi Warga Binaan Rutan Banyumas. (Foto: istimewa)

Di tengah keterbatasan ruang gerak, Ramadan justru membuka ruang batin yang lebih luas. Tadarus di Rutan Kelas IIB Banyumas menjadi simbol bahwa pembinaan bukan sekadar proses administratif, melainkan perjalanan memulihkan martabat dan harapan.

Di balik jeruji, ayat-ayat suci itu tak hanya dibaca—ia didengar, direnungkan, dan perlahan mengubah cara pandang. Ramadan pun menjelma bukan hanya bulan ibadah, tetapi momentum transformasi menuju kehidupan yang lebih bermakna ketika pintu kebebasan kelak benar-benar terbuka. (wd)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Slot Gacor Thailand