Wednesday, July 15, 2026
HomeJalan Sunyi Imam Kurniawan: Menjaga Martabat Profesi, Menyimpan Asa Jadi Advokat

Jalan Sunyi Imam Kurniawan: Menjaga Martabat Profesi, Menyimpan Asa Jadi Advokat

Derap.id | Purwokerto — Di sebuah rumah sederhana di Jalan Tambak Batu 1, Kelurahan Karangpucung, Kecamatan Purwokerto Selatan, papan kecil bertuliskan layanan pijat refleksi dan tradisional tergantung di teras. Dari tempat itulah Imam Kurniawan menerima pelanggan. Tangannya cekatan, ucapannya tenang. Tak banyak yang tahu, pria itu adalah seorang Sarjana Hukum.

Lulus dari Fakultas Hukum pada 2008 dengan gelar SH, Imam pernah membayangkan dirinya berdiri di ruang sidang, menyusun argumentasi, membela kepentingan klien di bawah payung hukum. Namun kehidupan membawanya ke jalan berbeda—jalan yang tak pernah ia rancang, tetapi ia jalani dengan kesadaran penuh.

“Yang penting kebutuhan hidup harus jalan. Saya menerima pekerjaan ini dengan ikhlas,” ujarnya pelan.

Ketika Gelar Tak Serta-Merta Membuka Pintu

Realitas ekonomi menjadi simpang awal perubahan arah hidupnya. Selepas kuliah, kesempatan bekerja di bidang hukum tak segera datang. Tuntutan nafkah membuatnya mengambil pekerjaan apa pun yang halal. Ia sempat menjadi marketing produk kesehatan Naturindo. Dari situ, ia mulai mengenal dunia terapi kesehatan dan bertemu para pelatih pijat pada 2017.

Pertemuan itu menjadi titik balik. Imam belajar teknik pijat refleksi dan tradisional secara serius. Ia tak setengah-setengah. Sertifikasi, pelatihan, hingga praktik berulang dijalaninya dengan disiplin. Sejak itu, ruang tamunya berubah fungsi menjadi ruang terapi.

Dengan tarif Rp150 ribu untuk durasi hingga dua jam, Imam melayani pelanggan di rumah maupun panggilan ke luar kota, termasuk ke Purbalingga. Sebelum pandemi, ia mampu menangani enam hingga tujuh klien per hari. Kini jumlah itu menurun, seiring menjamurnya tempat pijat modern di Purwokerto.

Namun bagi Imam, pekerjaan ini bukan bentuk kegagalan akademik.

“Profesi apa pun kalau dijalani dengan sungguh-sungguh itu mulia,” katanya.

Martabat di Atas Gengsi

Di tengah kultur masyarakat yang kerap menilai kesuksesan dari linieritas gelar dan pekerjaan, Imam memilih berdamai dengan realitas. Ia tak menyangkal bahwa pernah ada fase batin yang menguji—ketika gelar Sarjana Hukum tak serta-merta menghadirkan posisi di kantor pengacara atau lembaga peradilan.

Tetapi ia menolak terjebak pada gengsi profesi. Baginya, martabat terletak pada kejujuran dan tanggung jawab, bukan pada papan nama jabatan.

Di usia yang akan menginjak 46 tahun pada Agustus mendatang, api mimpinya belum padam. Ia masih menyimpan keinginan kembali ke dunia hukum—bukan sekadar untuk status, tetapi sebagai bentuk penuntasan panggilan intelektual.

“Saya ingin mendalami lagi ilmu hukum. Belajar lagi. Kalau rezekinya ada, saya ingin berkarier sebagai advokat,” ujarnya.

Ia sadar, dunia hukum terus bergerak. Regulasi berubah, praktik berkembang, standar profesional makin tinggi. Ia menyebut perlunya pelatihan, pembaruan pengetahuan, serta bimbingan dari para senior. Ia memahami jalan menjadi advokat tidak instan, tetapi ia tak menutup pintu.

Antara Realitas dan Asa

Hari-harinya kini tetap diisi dengan menerima pelanggan. Di sela waktu, ia membaca kembali buku-buku hukum lamanya. Putra semata wayangnya yang berusia 22 tahun kini bekerja di Bali—kebanggaan tersendiri bagi seorang ayah yang berjuang dengan cara yang mungkin tak banyak dipahami orang.

Kisah Imam adalah cermin tentang daya lenting. Tentang bagaimana gelar akademik tak selalu berbanding lurus dengan profesi yang dijalani. Tentang pilihan untuk tetap tegak, meski arah hidup berbelok.

Di balik tangan yang memijat dan meredakan pegal pelanggan, tersimpan memori ruang kuliah, pasal-pasal undang-undang, dan mimpi berdiri di depan majelis hakim. Mimpi itu mungkin tertunda, tetapi belum selesai.

Dan mungkin, suatu hari nanti, papan kecil di depan rumahnya tak hanya memuat layanan pijat refleksi dan tradisional, melainkan juga nama sebuah kantor hukum.

Sebab bagi Imam Kurniawan, hidup bukan tentang menjaga gengsi gelar, melainkan tentang menjaga martabat—sambil setia menunggu kesempatan kedua. (wd)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments

Slot Gacor Thailand