Menyibak Tabir Percaloan Di Kanim Kelas I Tanjung Perak, Yang Sebabkan Human Trafficking

0
2276
Foto : Paspor milik Admari

DERAP.ID I Surabaya – Berawal dari mengurus paspor melalui Calo, berakibat jadi korban human trafficking (perdagangan manusia). Admari warga Sampang Madura ini menjadi korban perdagangan manusia setelah mengurus paspor dengan menggunakan jasa calo.

Kejadianya berawal ketika Admari dan Badriyah istrinya ditawari Yanti untuk bekerja di Malaysia, dengan janji mendapatkan gaji yang besar.
Untuk bisa bekerja di Malaysia, mereka diwajibkan mempunyai paspor. Admari dan Badriyah istrinya bersedia mengurus paspor melalui mereka (Yanti), walaupun dengan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya Admari dan istrinya di ajak Yanti datang ke Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Tanjung Perak.

Ketika pertama kali datang ke Kanim Tanjung Perak untuk urus paspor, Admari dan Badriyah ditolak petugas karena dokumennya tidak lengkap. Tetapi Yanti menawari mereka (Admari dan Istri) agar mau membayar 10 juta rupiah supaya pengurusan paspornya lancar. Setelah menerima uang 10 juta rupiah dari Admari, Yanti memberikan uangnya ke Pandi (warga Malaysia) yang saat itu langsung menelpon petugas Imigrasi. Tidak begitu lama akhirnya Admari dan istrinya diperbolehkan masuk untuk tetap melanjutkan pengurusan paspor oleh petugas. Walaupun saat itu Admari dan istrinya belum melengkapi kekurangan dokumen pengurusan paspor.

Hari itu juga paspor jadi dan Admari beserta istrinya akhirnya bisa berangkat bekerja di Malaysia. (Bagaimana Admari dan istrinya bisa menjadi korban perdagangan manusia, akan kita kita ulas dalam bagian lain).

Sekarang akan kita bahas bagaimana dugaan pengurusan paspor bisa melalui calo. Walaupun dokumen tidak lengkap, pengurusan paspor melalui calo bisa lancar tanpa hambatan.

 

Tim investigasi Media DERAP Nasional mendatangi Kantor Imigrasi Tanjung Perak yang beralamat di Jl. Raya Darmo Satelit No 21 Tandes Kidul Surabaya untuk mengklarifikasi tentang percaloan yang terjadi.

Romi Yudianto Kepala Kanim Kelas I Tanjung Perak ketika akan ditemui Tim, tidak berada di tempat. Akhirnya yang menemui Tim DERAP NASIONAL adalah Ivan Dani Kasubsi Tehnologi dan Informasi. Kepada Tim Ivan Dani mengatakan bahwa pimpinan sedang tidak ada ditempat. “Pimpinan sedang tidak ada ditempat, untuk konfirmasi saya bisa bantu menyampaikannya di Pimpinan”, ujar Ivan.

Tetapi Tim bersikukuh ingin bertemu langsung dengan Pimpinan walaupun bukan Kepala Kanim. Tim Akhirnya ditemui oleh Kepala Seksi Tehnologi dan Informasi Arief Hanafi, yang mengatakan bahwa pelayanan pengurusan paspor di Kanim Kelas I Tanjung Perak sudah dilakukan sesuai prosedur tanpa bisa melalui calo. Ketika ditanya tentang kasus Admari warga Sampang yang tertipu oleh calo dan menjadi korban perdagangan manusia, Arief mengaku tidak tahu dan pihaknya merasa sudah melakukan prosedur dengan benar.

Foto : Admari korban perdagangan manusia di Malaysia

Tim menunjukkan bukti copy paspor milik Admari dan istrinya beserta copy kartu keluarga, sedangkan untuk akte kelahiran dan ijasah yang menjadi syarat pengajuan paspor, Admari tidak mempunyai. Arief menyuruh Tim untuk datang langsung menemui Kepala Unit Layanan Paspor (ULP) Gresik yang mengeluarkan paspor milik Admari dan Istrinya. “Silahkan temui saja Kepala ULP Gresik yang mengeluarkan Paspor, bukan disini”, pungkas Arief pada Tim DERAP NASIONAL.

Ketika Tim ke Kantor ULP Gresik, Kepala Kantor juga tidak berada di Tempat. Tim ditemui oleh Ishaq Adam yang mengatakan akan menghubungi Tim jika Kepala Kantor sudah ada dan bersedia ditemui. Selasa (28/05/19)

Sampai berita ini di update, pihak ULP Gresik belum menghubungi dan belum bisa dikonfirmasi.

Sebelumnya Tim juga mewawancarai Admari yang mengaku tidak mempunyai akte kelahiran sebagai syarat pengurusan paspor. “Saya akte tidak punya, makanya saya bayar mahal ke Yanti untuk bisa dapat paspor danbekerja di Malaysia”, ujar lelaki yang berprofesi sebagai tukang becak itu.

Perlu diketahui pembaca bahwa pasca Admari mendapatkan paspor, dia berangkat ke Malaysia untuk bekerja dengan gaji 5 juta sebulan sesuai janji calo. Tetapi apa yang di terima Admari adalah dia hanya menerima gaji Rp. 10 ribu perjam tiap hari, itupun masih juga dipotong oleh calo yang melantarkannya kerja di Malaysia.

Sampai akhirnya Admari berhasil melarikan diri pulang ke Indonesia. Dia melaporkan ke Pihak yang berwajib apa yang telah dialaminya. Sedangkan naas bagi istrinya yang tidak bisa melarikan diri. Dan sekarang istri Admari masih ditahan oleh calo di Malaysia. (red) BERSAMBUNG…………..