Terbengkalainya Bangkai Kapal MV Mentari Crystal Di Kolam Dermaga Anak Usaha PT Pelindo III (Persero)

0
89

DERQP.ID|| Gresik ,- Satu dari penyangga kelancaraan arus logistik di Indonesia, Terminal Teluk Lamong (TTL) mulai gerah. Kegelisahan ini akibat masih terbengkalainya bangkai kapal MV Mentari Crystal di kolam dermaga anak usaha PT Pelindo III (Persero) tersebut.

Praktis, bangkai kapal cargo milik pelayaran PT Mentari Mas Multimoda yang tak kunjung dievakuasi itu dapat berpotensi mengganggu kinerja operasional TTL secara normal. Potensi hambatan ini diyakini dapat menjadi kendala dalam operasional pelabuhan, seperti pelayanan kapal dan kegiatan bongkar muat barang.

“Sebagai bagian dari pelabuhan di wilayah Tanjung Perak, saat ini kami mulai merasakan adanya tekanan dari segi operasional akibat semakin padatnya jadwal kedatangan kapal,” aku Direktur Utama (Dirut) PT TTL, Faruq Hidayat, Rabu (27/1/2021).

Ia berharap, PT Mentari Mas Multimoda segera menyelesaikan percepatan evakuasi sesuai aturan. Desakan yang mendorong pemilik mempercepat pengangkatan bangkai kapal, agar pelayanan pelabuhan bisa segera beroperasi dengan kapasitas normal.

“Harus dilakukan dengan cepat dan efektif. Sehingga, tidak mengganggu kegiatan operasional pelabuhan,” pinta Faruq usai melakukan proses pelepasan dan pengangkatan sejumlah peti kemas yang terjebak di dalam palka kapal saat insiden tergulingnya MV Mentari Crystal pertengahan November 2020 lalu.

Dorongan yang mendesak pemilik kapal mempercepat evakuasi terlontar di sela upaya percepatan evakuasi pasca insiden MV Mentari Crystal di dermaga Domestik PT TTL. Kni, proses evakuasi lajutan dengan mengangkat bangkai MV Mentari Crystal dari kolam dermaga.

Proses percepatan evakuasi lanjutan yang dilakukan PT Mentari Mas Multimoda sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut merupakan bagian dari permintaan TTL selaku pengelola pelabuhan.

“Kami akan terus berkomitmen dan bertanggung jawab melakukan upaya percepatan evakuasi kapal MV Mentari Crystal,” janji Anhtony yang mengaku telah menunjuk tim khusus dari eksternal perusahaannya dalam proses evakuasi tersebut.

Anthony menyatakan, proses pembersihan kolam Terminal Teluk Lamong akan dikebut percepatannya. Namun demikian, pihaknya tetap memperhatikan faktor keselamatan dan potensi pencemaran lingkungan.

“Kami bertanggung jawab penuh terhadap seluruh pembiayaan yang diperlukan. Mulai proses evakuasi hingga kerugian lain akibat insiden ini,” jaminnya.

Sementara, Zaenal Hasibuan, Ketua Tim Khusus evakuasi dari pihak pemilik kapal menjelaskan, telah melakukan penyesuaian metode evakuasi. Metode yang awalnya mengapungkan bangkai kapal, kini diubah menjadi pemotongan kapal pada beberapa bagian.

“Selanjutnya, kami angkat menggunakan barge crane,” jelasnya.

Namun, menurut Zaenal, cuaca dengan intensitas curah hujan sangat tinggi dan angin kencang memang menjadi kendala untuk evakuasi. Begitu pun saat pelaksanaan proses evakuasi di dasar dermaga. “Jarak pandang zero visibility menjadi kendala utama, khususnya terhadap faktor keselamatan tim kami,” kilahnya.

Sebelumnya, pada 15 November 2020, MV Mentari Crystal tenggelam sesaat setelah melakukan upaya muat peti kemas. Beruntung, 18 ABK berhasil diselamatkan.

Untuk saat ini, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih menyelidiki penyebab insiden kapal terguling tersebut. Sayangnya, hingga kini KNKT belum menuai hasil dari proses penyelidikannya

Atas peristiwa yang menyedot perhatian publik dan mengagetkan insan maritim itu, PT TTL bergerak cepat dengan melakukan penyesuaian jadwal pelayanan. Sehingga, kejadian tersebut tidak berpengaruh pada proses operasional di Terminal Teluk Lamong.