Terdakwa Nicholas Handy Biantoro Berprofesi Seorang Guru Matematika Sekolah Dasar Kurnia Hidup, Di Hukum Penjara Selama 10 Tahun

0
267

DERAP.ID|| Surabaya,- Terdakwa Nicholas Handy Biantoro (40), berprofesi seorang guru matematika Sekolah Dasar Kurnia Hidup, di hukum penjara selama 10 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Dalam kasus pencabulan terhadap delapan orang siswanya, Selasa sore kemarin (3/11).

I Ketut Tirta selaku hakim ketua menyatakan pada putusannya, Bahwa terdakwa Nicholas Handy Biantoro terbukti melakukan tindak pidana kekerasan terhadap anak secara berdiri sendiri, juga terbukti melakukan pencabulan terhadap korban yang masih di bawah umur.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Nicholas Handy Biantoro terbukti bersalah dalam kekerasan anak dan turut serta dan cabul. Menjatuhkan pidana selama 10 tahun penjara dan denda Rp 10 juta” ujar ketua majelis hakim ketua dalam sidang online di ruang Garuda 2.

I Ketut juga menjelaskan, jika terdakwa tidak dapat membayar denda sebesar Rp 10 juta maka diganti dengan tambahan kurungan penjara selama tiga bulan.

Lebih lanjut dijelaskan, Jika terdakwa telah melanggar Pasal 82 Undang-Undang 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 KUHP. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, yang menuntut hukuman 12 tahun penjara, dengan denda sebesar Rp 10 juta subsidair enam bulan penjara.

Untuk diketahui, Terdakwa Nicholas Handy Biantoro yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar (SD) di Surabaya, tega mencabuli delapan orang muridnya yang duduk mulai dari kelas III hingga kelas V SD, Korbannya selain lima orang pria juga tiga orang perempuan yang semua adalah muridnya sendiri.

Dimana, Terdakwa sendiri yang tinggal di Perumahan Nirwana Eksekutif Blok EE, Jalan Baruk Utara VIII, Rungkut Surabaya, Sebelumnya ditangkap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Modus pencabulan yang dilakukan terdakwa terhadap korban sekaligus murid, dengan cara mengajak ke rumahnya di Perumahan Nirwana Eksekutif, Kemudian dengan alasan dibersihkan badannya, korban kemudian dimandikan dan sambil diraba-raba pada bagian sensitifnya.

Usai dimandikan, korban pun diminta rebahan di kamar tidur, dan diperiksa terdakwa dengan menggunakan stetoskop, Sementara untuk korban perempuan selanjutnya diraba bagian dada dan alat vitalnya, begitu pun dengan korban pria, Ironisnya, Terdakwa pun sempat mengaku tak hanya mencabuli para korban di rumahnya, Dimana kejadian sejak November 2019 hingga pertengahan Februari 2020 lalu.(@ Budi R)