Badan Intelijen Negara (BIN) Baru Saja Memamerkan Pasukan Khusus Rajawali Yang Dilengkapi Senjata Laras Panjang

0
508

DERAP.ID|| Badan Intelijen Negara (BIN) baru saja memamerkan pasukan khusus Rajawali yang dilengkapi senjata laras panjang di hadapan sejumlah pejabat negara dalam kegiatan Peningkatan Status Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Keberadaan pasukan khusus ini langsung menjadi bahan perbincangan.oleh Pengamat militer Institute For Security and Strategic Studies (ISSES), Khairul Fahmi, bahkan menyatakan BIN baru boleh memiliki pasukan khusus bersenjata lengkap apabila dipayungi oleh undang-undang Dasar Republik Indonesia.

“Secara konstitusional negara Khususnya Negara Republik Indonesia dan hanya mengenal dua bentuk kekuatan bersenjata. Yang pertama namanya TNI. Yang kedua namanya Polri,” kata Fahmi, Sabtu Kemarin (12/9).

Fahmi menjelaskan di Indonesia hanya ada dua lembaga yang boleh memiliki kekuatan bersenjataan, yakni TNI dan Polri.

TNI, dijelaskan Fahmi, adalah komponen utama atau sebagai pengaman negara untuk menegakkan kedaulatan NKRI,juga menjaga pertahanan serta menjalankan tugas dan fungsi operasi militer. TNI sendiri juga bisa menjalankan operasi militer selain perang.

Untuk sementara ini dari Polri Sendiri merupakan lembaga penegak hukum juga penegak keamanan dan ketertiban bagi masyarakat.

“Jadi dua lembaga atau organisasi inilah yang juga memiliki mandat konstitusional sebagai kekuatan untuk bersenjata dengan kewenangan ofensif,” katanya.

Fahmi mengakui bahwa BIN memiliki fungsi pengamanan seperti diatur dalam UU No. 17 tahun 2011. Namun, bukan berarti BIN jadi boleh memiliki pasukan bersenjata.

Memurut keterangan Fahmi, harus tetap ada pasal atau ayat dalam Undang Undang yang mengatur secara gamblang. Sebab kegiatan pengamanan yang dimaksud dalam ranah fungsi intelijen untuk Negara.

“Sementara ini kegiatan untuk pengamanan yang berada dalam ruang lingkup fungsi intelijen. Bukan yang lain,” kata Fahmi.

Dalam UU No 17 tahun 2011 dan Perpres No 73 tahun 2017, untuk dinyatakan bahwa BIN memiliki banyak fungsi penyelidikan,juga pengamanan, dan penggalangan. Tetapi tidak ada pasal atau ayat yang menyebutkan secara gamblang bahwa BIN boleh mempunyai pasukan bersenjata.

Sejak di bulan Juli 2020, BIN kini berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo,semula di bawah koordinasi Kementerian juga Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenkopolhukam). Perubahan ini juga diresmikan lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 73 Tahun 2020.

Fahmi kemudian juga mempertanyakan tujuan pasukan khusus Rajawali yang dibentuk BIN. Sebab, BIN selama ini merupakan dari badan intelijen yang bahkan anggotanya banyak berasal dari kalangan sipil.

“Jadi selama ini pasukan yang dibentuk oleh BIN, di mana sekarang posisinya? Apakah BIN sedang didesain sebagai ‘angkatan kelima’,” ujar Fahmi.

Fahmi juga mengkritik BIN dalam membangun keorganisasian dan meningkatkan kinerjanya. Selama ini membangun organisasi intelijen kelas mendunia, ujar Fahmi, BIN sekarang ini justru bergerak ke arah yang sangat membingungkan.

Apalagi ditambah adanya bermunculnya pasukan khusus BIN yang belum jelas dengan dasar hukumnya untuk pembentukannya.

“Tapi selama ini belum jelas, lembaga ini sedang menyaru jadi anggota tentara, atau polisi apa sekadar untuk penggemar saja ‘cosplay’ belaka?” kata Fahmi.

Selama ini, keberadaan pasukan khusus Rajawali diketahui dari cuplikan video yang diunggah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo melalui akun Instagram pribadinya.

Dalam video itu, pasukan terlihat memeragakan aksi militer di hadapan sejumlah Jenderal TNI yang hadir. Tidak diketahui apakah pasukan khusus Rajawali terdiri atas personel TNI, Polri, atau anggota BIN.

Atraksi Pasukan Rajawali ini ditampilkan di hadapan Kepala BIN Jenderal (Purn) Budi Gunawan, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesetyo, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid, dan Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono.(Budi R )