Jenderal TNI Andika Perkasa Berpeluang Menjadi Panglima TNI

0
276

DERAP.ID|| Jakarta,- Sosok pengganti Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang masa jabatannya diperkirakan akan berakhir tahun depan mulai mengemuka.

Selain ini banyak nama mulai bermunculan. Jadi salah satu penilaian dari Tiga Matra ternyata KSAD Jenderal Andika Perkasa yang dinilai paling pas menjadi Panglima TNI.Karna Habis TNI AU kita kembali Ke TN AD Baru TNI AL, TN AU. Itu kalau menurut Urutannya. Jangan melihat yang udah dijalani dulu dulunya, sekarang udah Serahkan Saja Ke Panglima Tertinggi Kita Presiden Republik Indonesia Joko Widido.

Lantas, dari tiga kepala staf TNI pada saat ini, siapa sosok paling berpeluang menjadi panglima tertinggi di militer Indonesia?

Untuk memberikan penilaiannya terkait siapa yang paling berpeluang menjadi Panglima TNI, Menggantikan Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Presiden Republik Indonesia Joko Widodo melantik Laksamana Yudo Margono sebagai Kepala Staf Angkatan Laut ( KSAL ) dan Marsekal Fadjar Prasetyo sebagai Kepala Staf Angkatan Udara ( KSAU ).

Sementara posisi Kepala Staf Angkatan Darat ( KSAD ) masih dipegang oleh Jenderal TNI Andika Perkasa.

Dari ketiganya baik KSAD, KSAL, KSAU, dan KSAD yang paling berpeluang menjadi Panglima TNI selanjutnya adalah Jenderal TNI Andika Perkasa.

Hal tersebut sesuai dengan aturan rotasi yang telah digariskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia.

“Secara historis, kita bisa lihat Panglima TNI saat ini berasal dari Angkatan Udara, Maka berdasarkan rotasi Panglima TNI selanjutnya, Angkatan Darat yang mendapatkan jabatan ini. menurut Undang Undang TNI secara normatif.

Sosok Panglima TNI Paling Pas, Adalah KSAD Andika Perkasa, Untuk Menguatkan.

Sementara posisi Kepala Staf Angkatan Darat ( KSAD ) masih dipegang oleh Jenderal TNI Andika Perkasa.
Sementara Untuk mencari Siapa Yang Cocok Untuk menggantikan KSAD.

Secara normatif, dari ketiganya baik KSAD, KSAL, KSAU, dan yang paling berpeluang menjadi Panglima TNI selanjutnya adalah Jenderal TNI Andika Perkasa.

Hal tersebut sesuai dengan aturan rotasi yang telah digariskan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia.

pergantian Panglima TNI sesuai dengan Undang Undang Nomor 34 Tahun 2004 sudah diterapkan sejak Pemerintahan Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau sapaan Gus Dur.

“Sesuai amanah Undang Undang TNI diteruskan sampai saat ini, sehingga pola itu terus dikembangkan.Pemilihan Panglima TNI Tidak ada kaitannya dengan unsur politik itu perlu digaris bawahi.

Jabatan itu Amanah jadi ini merupakan satu dari sekian jabatan lainnya yang sangat strategis di Kenegaraan khususnya di Republik Indonesia. Sehingga dalam pemilihannya Panglima TNI, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo Tetap Sesuai Aturan Yang Ada di Undang Undang Nomor 34 Tahun 2004.

Dan untuk menjamin kesimbangan dan keadilan kita bersama. Seharusnya mengacu pada Undang Undang TNI saja.
KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa,yang Pantas menjabat sebagai Panglima TNI Akan Datang.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto masih bisa lama menjabat sebab saat ini usianya masih 56 tahun, sedangkan usia pensiun anggota TNI adalah 58 tahun.
Pada 8 November 2020 nanti, dia akan memasuki usia 57 tahun.

Kemungkinan pergantian Panglima TNI akan dilakukan pada tahun depan.

KSAL dan KSAU Baru Pilihan yang Pas dan Tepat terpilihnya Laksamana Yudo Margono sebagai KSAL dan Marsekal Fadjar Prasetyo sebagai KSAU merupakan pilihan yang tepat.”Kalau dilihat dari jenjang karirnya dua orang itu tampaknya orang yang tepat untuk menduduki posisi KSAL dan KSAU.

“Mereka terakhir menjabat sebagai Pangkogabwilhan I dan II, dan menempati posisi-posisi strategis dan jabatan strategis di TNI AU dan TNI AL. Sehingga secara jenjang karir memang mereka memiliki posisi yang pas untuk menduduki posisi KSAL dan KSAU,

KSAL Dan KSAU akan menghadapi pekerjaan rumah serta tantangan besar ke depan.Terkait dengan orientasi pembangunan pertahanan bangsa Indonesia.Terutama pandemi Covid-19 juga untuk menjadi persolan tersendiri KSAL dan KSAU baru.

“PR paling berat adalah kita tahu bahwa dampak dari pandemi ini, adalah pengurangan anggaran di berbagai sektor pemerintahan, termasuk juga kementerian pertahanan. Pada di sisi lain ada realitas ancaman, terkait dengan konflik di Laut China Selatan, khususnya di Laut Natuna, di situ tentu ada peranan Angkatan Laut dan Angkatan Udara sendiri sangat signifikan.

Oleh karena itu, KSAL dan KSAU bisa menciptakan terobosan baru di tengah keterbatasan anggaran.Sehingga mobilisasi alutsista mampu untuk menjawab persoalan ancaman yang ada.

“Persoalanan Laut China Selatan itu menjadi PR sangat rumit kalau dalam situasi normal mungkin bisa mengadakan mobilitasi alutisan baik karena anggaran bisa mencukupi peningkatan kapasitas pertahanan. Tapi realitanya sekarang Indonesia mengalami persoalan ekonomi terdampak pada pengurangan anggaran termasuk di masalah pertahanan. Butuh terobosan dari TNI AL dan TNI AU untuk mengatasi bagaimana tetap membangun efektivitas pertahanan di dalam keterbatasan anggaran.(Budi R).